Aceh Tengah -investigatornews.id- Puluhan warga Dusun Datu, Kampung Kemili, Kecamatan Bebesen, Kabupaten Aceh Tengah, melakukan aksi penolakan terhadap keberadaan Tempat Penampungan Sampah Sementara (TPS) yang berada di sekitar kawasan permukiman mereka, Jumat (12/06/2026).
Aksi yang diikuti berbagai kalangan masyarakat, mulai dari ibu rumah tangga hingga kaum bapak, dilakukan dengan memasang palang dan meletakkan drum di akses menuju lokasi TPS yang saat ini sedang dilakukan pelebaran. Warga menyatakan keberatan terhadap keberadaan TPS yang dinilai terlalu dekat dengan lingkungan tempat tinggal masyarakat.
Dalam aksi tersebut, warga juga membawa sejumlah karton bertuliskan penolakan terhadap rencana pengembangan maupun keberadaan TPS di wilayah Kampung Kemili. Salah satu tulisan yang tampak berbunyi, “Kami Masyarakat Kampung Kemili Tidak Mengizinkan Adanya Pembuangan Sampah di Kampung Kemili dan Harap Dipindahkan.”

Menurut warga, keberadaan TPS di kawasan yang padat aktivitas masyarakat berpotensi menimbulkan gangguan terhadap kenyamanan lingkungan, kesehatan, serta aktivitas sosial dan keagamaan warga setempat.
“Sebenarnya persoalan ini sudah beberapa tahun kami sampaikan dan pernah kami diskusikan dengan pemerintah daerah. Kami tetap tidak setuju apabila lokasi pembuangan sampah ditempatkan di kawasan ini,” ujar H. Akbar, salah seorang tokoh masyarakat yang ikut dalam aksi tersebut.
Ia menjelaskan, lokasi TPS berada tidak jauh dari sejumlah fasilitas umum dan sosial masyarakat, seperti meunasah, sekolah, kantor pemerintahan, koperasi desa, serta fasilitas publik lainnya yang setiap hari digunakan masyarakat.
Menurutnya, warga berharap pemerintah dapat mempertimbangkan kembali lokasi TPS dan mencari alternatif tempat yang dinilai lebih representatif serta tidak berada di tengah kawasan permukiman penduduk.
Senada dengan itu, warga lainnya, Yusmanto, mengaku masyarakat selama ini merasakan dampak berupa aroma tidak sedap yang muncul pada waktu-waktu tertentu.
“Kami merasa bau mulai sore hingga pagi hari. Kondisi ini tentu mengganggu kenyamanan masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi,” katanya.

Warga menegaskan aksi yang dilakukan merupakan bentuk penyampaian aspirasi secara damai agar mendapat perhatian dari pihak terkait. Mereka berharap pemerintah daerah segera melakukan dialog terbuka dengan masyarakat guna mencari solusi terbaik yang dapat mengakomodasi kepentingan pelayanan kebersihan sekaligus menjaga kenyamanan lingkungan warga.
Masyarakat berharap persoalan tersebut dapat diselesaikan melalui musyawarah dan pendekatan yang konstruktif sehingga tidak menimbulkan konflik berkepanjangan di tengah masyarakat.(***)


