Kisah Haru Juardi Akbar, Anak Korban Banjir Bandang Aceh Tengah yang Lulus Jadi Prajurit TNI AD

Aceh Tengah – investigatornews.id- Di tengah keterbatasan hidup pascabencana banjir bandang yang melanda Kabupaten Aceh Tengah pada 27 November 2025, secercah harapan datang dari seorang pemuda asal Kampung Kute Reje, Kecamatan Linge. Juardi Akbar berhasil membuktikan bahwa semangat, kerja keras, dan doa mampu mengalahkan berbagai keterbatasan.

Juardi Akbar, putra dari Mansuri, dinyatakan lulus dalam seleksi Calon Tamtama Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) yang dilaksanakan di Ajendam Iskandar Muda, Banda Aceh. Kepastian kelulusan tersebut diterima pada Sabtu, 11 Juli 2026.

Keberhasilan Juardi menjadi kisah yang menginspirasi banyak pihak. Pasalnya, ia merupakan salah satu korban banjir bandang yang menyebabkan rumah keluarganya rusak dan menghilangkan sebagian besar harta benda. Sejak bencana tersebut, keluarga Juardi tinggal di hunian darurat sambil menunggu proses pemulihan dan pembangunan kembali tempat tinggal mereka.

Di tengah kondisi ekonomi yang sulit, Juardi tetap memegang teguh cita-citanya untuk menjadi prajurit TNI AD. Dengan dukungan keluarga, ia berangkat dari hunian darurat menuju Banda Aceh untuk mengikuti seluruh tahapan seleksi.

Ayah Juardi, Mansuri, menceritakan bahwa putranya berangkat hanya dengan bekal yang sangat terbatas. Menurutnya, Juardi membawa sisa uang bantuan biaya hidup (jadup) sebesar Rp800 ribu, di luar biaya pengurusan administrasi pendaftaran, serta dua karung beras masing-masing seberat 5 kilogram dan 10 kilogram sebagai bekal selama berada di Banda Aceh.

“Anak saya berangkat dari hunian darurat menuju Banda Aceh untuk mengikuti seleksi TNI AD hanya bermodalkan sisa uang jadup sekitar Rp800 ribu, di luar biaya pengurusan berkas. Ia juga membawa dua karung beras sebagai bekal. Yang paling besar sebenarnya adalah tekad, semangat, dan doa,” ujar Mansuri.

Mansuri mengaku bersyukur atas hasil yang diraih putranya. Baginya, kelulusan tersebut menjadi jawaban atas perjuangan panjang keluarga mereka yang harus bangkit dari dampak bencana alam.

Ia juga berharap kisah perjuangan Juardi dapat menjadi motivasi bagi para generasi muda, khususnya anak-anak penyintas bencana, agar tidak menyerah dalam mengejar cita-cita meskipun menghadapi berbagai keterbatasan ekonomi maupun kondisi sosial.

Selain itu, Mansuri berharap pemerintah dapat memberikan perhatian atau apresiasi kepada anak-anak korban bencana yang berhasil menorehkan prestasi melalui usaha dan kerja keras mereka.

“Kami berharap semoga ada apresiasi dari pemerintah untuk anak kami. Apa yang diraihnya hari ini merupakan hasil perjuangan yang tidak mudah,” katanya.

Keberhasilan Juardi menunjukkan bahwa kondisi ekonomi dan musibah yang pernah dialami tidak selalu menjadi penghalang untuk meraih masa depan yang lebih baik. Semangat pantang menyerah yang ditunjukkan pemuda asal Kute Reje tersebut menjadi inspirasi bahwa harapan tetap dapat tumbuh meski lahir dari situasi yang penuh keterbatasan.

Kisah Juardi Akbar menjadi pengingat bahwa di balik duka akibat bencana, masih ada cerita tentang keteguhan hati, pengorbanan keluarga, dan keberhasilan yang lahir dari semangat untuk tidak menyerah dalam menggapai cita-cita mengabdi kepada bangsa dan negara.(***)