Rumah, Kebun Kopi dan Tanaman Nenas Milik Kami Tertimbun Longsor, Itu satu- satunya Mata Pencaharian

Foto : Dusun Kayumi Kampung Kayukul Kecamatan Pegasing, luluh lantak di terjang banjir dan tanah longsor. 

Takengon | Investigator. News. co.id – Alhamdulillah, kami sekeluarga sehat walafiat, tetapi rumah, kebun kopi dan tanaman nenas milik kami sudah tertimbun longsor dan terbawa arus, ungkap Nek Solehin, warga Kampung Kayukul dusun Kayumi, kecamatan Pegasing, saat ditemui di lokasi rumah dan perkebunannya, Senin (22/12/2025).

Di kisahkannya, pada saat kejadian itu, selasa malam Rabu, 22 Nopember 2025), situasi hujan, secara kebetulan saya tidur di rumahnya, bersama anak dan cucu-cucunya, sejak suaminya meninggal dirinya sering tidur dirumah tepat di depan SMA Negeri Pegasing, saat itu, anak saya ( utih) mau tidur di tempat tersebut, saya melarangnya, karena hujan tidak kunjung reda dalam beberapa hari, saat itu, kenangnya.

” Pada saat itu, saya melarang anak saya tidur dirumah itu, karena hujan terus mengguyur hati saya tidak enak, jangan – jangan terjadi longsor atau hal yang lain ” ucapnya.

Eh, pas hendak menjelang waktu Isya, kejadian longsor dengan air bersama tanah dan kayu lainnya, turun dari atas sehingga rumah, kebun kopi dan tanaman nenas milik kami, sudah tertimbun pas ketika, saya melihat pagi harinya, dimana malam itu katanya, semua warga disana telah meninggalkan tempat itu, untuk mencari titik aman untuk mengungsi.

” Bagi, saya alhamdulillah, kami sekeluarga begitu juga yang lainnya, masih diberi kesempatan untuk hidup dan bernapas, Allah itu maha berkehendak dan maha Kuasa, masih diberikan kesempatan kepada kami’ tutur Nek Salihen orang memanggilnya itu.

Kini, ia hanya bisa menatap tanah dan bekas reruntuhan serta tanah yang terbawa arus, sebentar -bentar, dia mengatakan nanti yang tanah rata itu, masih bisa saya tanami nenas kembali, ucapnya, sambil berdiri menunjukan lahan miliknya tersebut.

Saat, hendak diambil gambarnya, dilahan tersebut, dia menyatakan tidak usah, lagi, nantinya saya teringat selalu, katanya.

Menurut beberapa masyarakat setempat, keluarga Nek Salihen, salah satu korban banjir dan tanah longsor yang paling banyak kerugiannya, disamping dia punya rumah, kopi dan tanaman nenasnya, hilang seketika. Nenek Salihen merupakan salah satu korban yang kehilangan semuanya, kecuali baju yang melekat di badan, hanya itu lagi yang tinggal.
” Alhamdullilah, nenek selamat dalam musibah bencana ini” Pungkas menghari ceritanya.
Sejak hari pertama terjadinya musibah banjir di daerah tersebut, telah ada yang datang dan memberi bantuan ala kadarnya, saat disinggung apakah mereka pernah mendirikan posko tempat pegungsian, meraka jawab hlada sebentar di menasah, tapi kami enggan terus disana, entah apa alasnya, mereka lebih mendingan numpang tempat tetangga, katanya.
Namun mereka kini berpikir lagi, tidak baik berlama- lama, numpang di tempat tetangga, sehingga mereka, tak ada pilihan lagi, harus mengutarakan kepada media, bahwa kami perlu, tenda keluarga, yang bisa kami pakai sementara, terang warga yang terdampak bencana itu. (***)