Aceh Tengah-investigatornews.id-Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Wih Pesam, Kabupaten Bener Meriah, tetap dilaksanakan meskipun menghadapi keterbatasan bahan baku serta kendala distribusi akibat akses jalan yang rusak pasca bencana.
Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Aula Khiruw Madani, SE, mengatakan bahan baku utama MBG seperti beras dan buah-buahan masih harus didatangkan dari luar daerah. Kondisi ini diperparah dengan medan jalan menuju sejumlah sekolah yang hingga kini belum sepenuhnya pulih.
“Keterbatasan kita ada pada bahan baku karena sebagian besar berasal dari luar. Selain itu, distribusi juga terkendala karena akses jalan ke sekolah-sekolah masih sulit pasca bencana,” ujarnya, Senin (02/02/2026).
Berdasarkan data SPPG, sasaran Program MBG di Kecamatan Wih Pesam meliputi 12 Polindes, 22 sekolah, 10 PAUD dan TK, 6 SD Negeri, 3 SMP, sekolah Muhammadiyah, Pesantren Nurul Qori, Madrasah Tsanawiyah (MTs), serta Sekolah Luar Biasa (SLB).
Distribusi MBG sendiri telah mulai berjalan sejak 19 Januari 2026. Hingga saat ini, pelaksanaan program tersebut belum menemui kendala berarti, meskipun waktu tempuh pengantaran menjadi lebih lama akibat kondisi jalan.
“Alhamdulillah sampai sekarang belum ada masalah serius. Keluhan hanya soal jarak dan kondisi jalan yang rusak, seperti di wilayah Suka Rame dan Suka Jadi yang aksesnya masih belum terbuka,” jelas Aula.
Untuk mengatasi kendala tersebut, ke depan pihak SPPG akan mengupayakan penyewaan kendaraan roda dua agar distribusi MBG tetap menjangkau daerah-daerah yang sulit dilalui kendaraan roda empat.
“Kita akan upayakan sewa kendaraan roda dua supaya pengantaran MBG bisa menjangkau wilayah yang tidak bisa dilewati mobil,” tambahnya.
Terkait pelaksanaan MBG selama bulan Ramadhan, pihak SPPG akan melakukan koordinasi dengan Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) serta pihak sekolah, mengingat seluruh penerima manfaat menjalankan ibadah puasa.
“Untuk Ramadhan nanti kita akan koordinasi dengan MPU dan pihak sekolah. Jika diizinkan tetap didistribusikan, maka tinggal kita sesuaikan jadwal dan waktunya,” pungkasnya.
Program MBG diharapkan tetap menjadi penopang pemenuhan gizi anak-anak dan masyarakat, meski dijalankan di tengah keterbatasan infrastruktur pasca bencana.(***)
