Bener Meriah – investigatornews.id – Di tengah dinginnya udara pegunungan dan keterbatasan pascabencana, semangat anak-anak Kampung Uning Mas, Kabupaten Bener Meriah, untuk menimba ilmu tak ikut runtuh bersama bangunan sekolah mereka. Pasca gempa bumi yang disusul banjir bandang dan tanah longsor pada 30 Desember 2025 lalu, ratusan siswa Sekolah Dasar terpaksa menjalani proses belajar mengajar di dalam tenda pengungsian milik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Kondisi ini terjadi lantaran bangunan sekolah mengalami kerusakan serius, terutama pada bagian dinding, yang dinilai tidak lagi aman digunakan. Demi menghindari risiko jatuhnya korban, pihak sekolah mengambil langkah darurat dengan memindahkan aktivitas belajar ke tenda pengungsian tempat yang sejatinya diperuntukkan bagi warga korban bencana.
Kampung Uning Mas menjadi wilayah yang paling parah terdampak. Banjir bandang dan longsor meluluhlantakkan hampir seluruh permukiman warga. Rumah-rumah rata dengan tanah, menyisakan puing dan kenangan. Hanya beberapa rumah kebun di dataran lebih tinggi yang masih berdiri. Hingga kini, warga bertahan di tenda pengungsian sambil menunggu realisasi pembangunan Hunian Sementara (Huntara) oleh pemerintah.
Di tengah keterbatasan itu, SD Negeri Uning Mas tetap berupaya menjalankan fungsinya sebagai ruang harapan bagi anak-anak. Proses belajar mengajar dilakukan di bawah tenda pengungsian, bahkan terkadang di badan jalan saat cuaca memungkinkan. Sekolah tersebut terpaksa direlokasi sementara sejauh kurang lebih enam kilometer dari lokasi asal.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bener Meriah, Saidi M. Nurdin, S.Pd., M.Pd., melalui Kepala Bidang Pendidikan Dasar (Kabid Dikdas), Edi Asmara, membenarkan kondisi tersebut saat dikonfirmasi media pada Rabu (21/1/2026).
Menurut Edi, saat ini SD Negeri Uning Mas memiliki 14 orang siswa, didampingi sembilan guru serta satu orang penjaga sekolah. “Di Kabupaten Bener Meriah, hanya satu sekolah yang mengalami kerusakan parah akibat banjir bandang dan longsor, yaitu SD Negeri Uning Mas. Kondisi ini sudah kami laporkan ke pemerintah pusat,” ujar Edi.
Meski harus belajar dengan fasilitas seadanya, Edi menegaskan semangat para siswa dan guru tidak pernah surut. “Alhamdulillah, anak-anak tetap antusias mengikuti pelajaran, dan para guru tetap setia mendampingi mereka. Ini adalah bentuk perjuangan bersama agar pendidikan tidak berhenti meski bencana datang,” katanya.
Belajar di bawah tenda bukanlah kondisi ideal. Namun bagi anak-anak Uning Mas, papan tulis darurat dan lantai tanah bukan penghalang untuk bermimpi. Di balik tenda pengungsian itu, tersimpan harapan besar agar negara segera hadir, tidak hanya membawa bantuan darurat, tetapi juga memastikan hak pendidikan anak-anak tetap terpenuhi secara layak dan bermartabat. (***)
