Aceh Tengah – investigatornews.id- Sejumlah wilayah di Kabupaten Aceh Tengah mengalami isolasi total selama hampir tiga minggu akibat bencana alam yang memutus akses transportasi dan jaringan komunikasi. Delapan jembatan dilaporkan putus, longsor menutup badan jalan, dan pasokan logistik terhenti, menyebabkan satu kabupaten praktis terisolasi dari daerah lain.
Sejak bencana terjadi, warga hidup tanpa jaringan komunikasi dan listrik. Pemadaman berlangsung total, sementara gas LPG habis dalam pekan pertama. Distribusi beras terhenti, dan bahan bakar minyak (BBM) menjadi barang langka karena digunakan untuk mengoperasikan genset serta mencari kebutuhan pokok ke luar daerah.
“Kami tidak tahu kondisi daerah kami sendiri. Bukan karena tidak mau mencari informasi, tetapi karena jaringan benar-benar lumpuh,” ujar salah seorang warga terdampak.
Memasuki minggu kedua, aktivitas ekonomi dan pekerjaan warga berhenti total. Bukan karena mogok kerja, melainkan tidak ada aktivitas yang bisa dijalankan. Warga memilih berjalan kaki, berkumpul dengan keluarga, mencari kayu bakar, dan bertahan dengan informasi yang sangat terbatas.
Kondisi terberat terjadi pada minggu ketiga. Persediaan beras menipis, penerangan hanya mengandalkan lilin yang tersisa, dan sebagian warga mulai mengurangi porsi makan. Dalam situasi tersebut, warga akhirnya membentuk kelompok swadaya untuk mencari jalur alternatif demi mendapatkan logistik.
Upaya itu membuahkan hasil setelah warga menemukan akses menuju Desa Kem, Kabupaten Aceh Utara. Jalur tersebut harus ditempuh dengan berjalan kaki sekitar lima jam melewati lumpur longsor, tanah amblas, dan bekas banjir bandang. Setelah jalur Buntul–Kem terbuka, warga membutuhkan sekitar dua jam perjalanan pergi dan tiga jam perjalanan pulang dengan memikul beras dan BBM di bahu.
Di tengah keterbatasan, sejumlah warga terpaksa mengisi BBM dengan campuran bahan lain seperti thinner dan spiritus. Telepon seluler yang berhasil diisi daya bukan digunakan untuk berkomunikasi, melainkan sebagai sumber penerangan karena lilin telah habis.
Meski rumah dan keluarga warga relatif selamat, dampak ekonomi disebut sangat berat. Harga kebutuhan pokok melonjak, aktivitas usaha lumpuh, dan hanya toko grosir serta kelontong yang masih bertahan dengan menjual mi instan.
Warga berharap pengalaman ini tidak dianggap sekadar cerita dramatis di media sosial. “Yang paling menyakitkan dari bencana bukan hanya longsor atau gelap, tetapi perasaan ditinggalkan dan hanya diminta untuk sabar,” kata warga.
Hingga berita ini diturunkan, warga meminta perhatian serius dari pemerintah dan pihak terkait agar distribusi logistik, pemulihan infrastruktur, serta penanganan pascabencana dilakukan secara cepat dan menyeluruh.(***)
