Pesantren Maqomammuda Takengon Selesaikan Insiden Santri Melalui Mediasi Kekeluargaan

Aceh Tengah -investigatornews.id- Pimpinan Pesantren Maqomammuda Takengon, Dr Abdiansyah Linge, MA, menegaskan bahwa pesantren yang dipimpinnya tidak membenarkan segala bentuk kekerasan fisik dalam proses pendidikan, menyusul insiden yang melibatkan seorang santri dan oknum pendidik pada hari kamis  29 Januari 2016 kemaren.

“Ada tindakan langsung dari ustad yang bersangkutan. Namun perlu kami tegaskan, pesantren Maqomammuda tidak memiliki aturan yang membolehkan kekerasan fisik dalam bentuk apa pun,” ujar Dr Abdiansyah Linge kepada wartawan.

Meski demikian, pihak pesantren memilih menempuh jalan musyawarah sebagai upaya penyelesaian terbaik, dengan mengedepankan nilai kekeluargaan dan pendidikan.

“Kami mengundang kedua belah pihak untuk duduk bersama dalam musyawarah di lingkungan pesantren,” katanya.

Dalam pernyataannya, pihak pesantren juga menyampaikan bahwa dari sisi ustad yang terlibat telah mengakui adanya kekhilafan dan kesalahan.

“Dari pihak ustad kami akui ada silap dan khilaf. Kami memohon izin serta kepercayaan dari orang tua Albar agar persoalan ini dapat kami selesaikan sesuai aturan yang berlaku di pesantren,” lanjutnya.

Sebagai tindak lanjut, mediasi resmi digelar pada Jumat, 30 Januari 2026, bertempat di ruang pimpinan Pesantren Maqomammuda Takengon.

Musyawarah tersebut dihadiri langsung oleh Dr Abdiansyah Linge, MA selaku Pimpinan Pesantren Maqomammuda, Ustad Aksa selaku Ketua Asuh Pesantren, Ustad Haji selaku Bidang Kedisiplinan Pesantren, Ustad Ahyana Sakura, Albar Santri, Rifal Fatih Susilo Santri, Orang tua/Wali murid dan beberapa santri lainnya.

Pertemuan berlangsung secara terbuka dan kekeluargaan. Dalam forum tersebut, masing-masing pihak diberikan kesempatan menyampaikan pandangan, klarifikasi, serta harapan ke depan.

Di akhir musyawarah, seluruh pihak sepakat untuk berdamai, ditandai dengan saling bersalaman dan berpelukan, serta saling memaafkan sebagai bentuk penyelesaian secara internal pesantren.

Pimpinan pesantren berharap peristiwa ini menjadi pelajaran bersama, sekaligus evaluasi bagi seluruh tenaga pendidik agar selalu mengedepankan pendekatan edukatif, bijak, dan berakhlak dalam membina santri.

“Pesantren adalah tempat membentuk karakter dan akhlak. Ke depan, pengawasan dan pembinaan akan kami perketat agar kejadian serupa tidak terulang,” tegas Dr Abdiansyah Linge.

Dengan adanya musyawarah tersebut, pihak pesantren menyatakan persoalan telah diselesaikan secara internal dan kekeluargaan, sesuai nilai-nilai yang dijunjung tinggi dalam dunia pendidikan pesantren. (***)