Akademisi Dr. Al Musanna: Kepanikan Warga Soal Sembako Wajar, Tapi Pejabat Tak Boleh Ikut Panik

Aceh Tengah- investigatornews id-Akademisi Aceh Tengah, Dr. Al Musanna, menyoroti kondisi psikologis masyarakat pascabencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Aceh Tengah sejak 26 November 2025. Ia menilai, kepanikan warga terhadap ketersediaan kebutuhan pokok merupakan hal yang manusiawi, namun sangat disayangkan apabila kepanikan tersebut justru ikut terjadi di kalangan pejabat pemerintahan.

“Jika warga panik soal sembako itu sangat wajar, karena mereka sedang berada dalam situasi tidak normal. Tetapi menjadi sangat naif dan memprihatinkan jika para pejabat dinas juga ikut panik. Lalu siapa lagi yang harus berpikir jernih untuk rakyat?” tegas Dr. Al Musanna, Jumat (26/12/2025).

Menurutnya, dalam situasi bencana, pemerintah daerah harus hadir sebagai penopang ketenangan dan kepastian di tengah masyarakat yang sedang kehilangan rasa aman, tempat tinggal, bahkan sumber penghidupan.

Ia menekankan bahwa Bupati Aceh Tengah seharusnya segera menginstruksikan seluruh jajaran dinas agar aktif turun ke lapangan, bukan hanya menjalankan fungsi administratif, tetapi juga memberikan penguatan moral dan empati kepada masyarakat.

“Pak Bupati harus memerintahkan seluruh dinas untuk hadir di tengah-tengah rakyat, menghibur mereka, menyapa mereka, merasakan langsung penderitaan mereka. Bukan hanya bekerja dari balik meja. Rakyat sedang terluka, bukan hanya secara fisik, tapi juga secara batin,” ujarnya.

Sejak bencana banjir bandang dan longsor yang terjadi akhir November lalu, ribuan warga Aceh Tengah masih hidup dalam kondisi serba terbatas. Banyak keluarga yang kehilangan rumah, lahan pertanian, serta mata pencaharian. Trauma dan kecemasan masih membayangi, terutama bagi mereka yang tinggal di kawasan rawan bencana.

Dalam kondisi tersebut, Dr. Al Musanna menegaskan bahwa peran negara melalui pemerintah daerah bukan sekadar menyalurkan bantuan logistik, tetapi juga menjaga harapan dan ketenangan sosial.

“Rakyat tidak hanya butuh sembako. Mereka butuh kehadiran pemimpin, kepastian, dan rasa aman. Pemerintah harus menjadi sumber keteduhan di tengah badai,” tutupnya.(***)