914 KK Terdampak Bencana di Bener Meriah, Ratusan Huntara Siap Huni Namun Listrik dan Air Masih Jadi Kendala

Bener Meriah – investigatornews.id- Sebanyak 914 kepala keluarga (KK) terdampak bencana di Kabupaten Bener Meriah tercatat dalam data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Dari jumlah tersebut, saat ini 543 KK telah menempati hunian sementara (huntara) yang tersebar di sejumlah titik lokasi di wilayah kabupaten tersebut.

Kepala BPBD Kabupaten Bener Meriah, Safriadi, menyampaikan bahwa sebagian besar bangunan huntara secara fisik telah rampung. Namun, masih terdapat sejumlah kendala teknis, khususnya pada penyediaan jaringan listrik dan air bersih.

“Bangunan sebagian besar sudah selesai. Tinggal penyambungan listrik dan air yang masih dalam proses. Jika semuanya sudah siap, maka pengungsi akan diarahkan menempati masing-masing unit,” ujar Safriadi, Selasa (03/03/2026).

Ia menjelaskan, titik-titik seperti Wonosobo dan Ketipis telah dilengkapi fasilitas dasar, di antaranya kipas angin, kompor portabel, serta kasur lipat. Para penghuni juga sudah dapat memasak secara mandiri di lokasi tersebut.

Sementara itu, pendamping dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Reza Pratama, menambahkan bahwa secara keseluruhan sekitar 815 unit huntara telah berdiri. Kendala utama saat ini bukan lagi pada struktur bangunan, melainkan penyempurnaan fasilitas pendukung.

“Secara bangunan sudah siap. Kendala ada pada listrik, air, dan pengadaan isi di dalamnya. Jika masyarakat ingin masuk, kami persilakan, namun dengan kondisi yang masih terbatas,” jelas Reza.

Beberapa lokasi seperti Mesidah, Gunung Sayang, Cemparam, dan Wonosobo disebut sudah memiliki bangunan yang berdiri, namun belum sepenuhnya dilengkapi fasilitas. Di sejumlah titik, aliran listrik bahkan masih ditarik sementara dari rumah warga sekitar.

Untuk wilayah Wonosobo, fasilitas air bersih dan listrik disebut dalam tahap penyelesaian. Sejumlah kebutuhan dasar seperti kompor portabel dan selimut sudah tersedia, sementara kasur masih dibawa secara mandiri oleh warga sembari menunggu bantuan tempat tidur yang dijanjikan.

Terdapat perbedaan fasilitas di beberapa lokasi berdasarkan kondisi geografis. Di daerah dengan suhu lebih panas disediakan kipas angin, sementara di wilayah yang lebih dingin tidak seluruhnya mendapatkan fasilitas tersebut.

BPBD dan BNPB menargetkan sebelum bulan Ramadhan, tepatnya sekitar 15 Maret, sebagian besar unit sudah dapat ditempati secara lebih layak. Estimasi terbaru, penyempurnaan fasilitas air, listrik, dan pengadaan perlengkapan ditargetkan rampung paling lambat tanggal 15 Maret, guna menghadapi Hari Raya Idul Fitri.

“Kami berharap, meskipun ada keterlambatan dari target awal karena beberapa faktor teknis, para pengungsi bisa segera pindah ke tempat yang lebih layak dibandingkan di tenda,” ujar Reza.

Pihak BPBD menegaskan bahwa seluruh proses masih berjalan dan terus dikoordinasikan dengan instansi terkait. Pemerintah daerah juga menyatakan komitmennya untuk memastikan para pengungsi dapat merayakan Idul Fitri dalam kondisi yang lebih nyaman dan manusiawi.

Hingga berita ini diterbitkan, proses penyempurnaan fasilitas di sejumlah titik masih berlangsung, memastikan seluruh keluarga terdampak memperoleh hunian sementara sesuai ketentuan yang berlaku.

Media ini akan terus memantau perkembangan realisasi penyediaan huntara bagi masyarakat terdampak bencana di Kabupaten Bener Meriah.(***)